Monday, December 9, 2019

Peluang dan Tantangan Mahasiswa BSA

PELUANG DAN TANTANGAN MAHASISWA BAHASA DAN SASTRA ARAB (BSA) DALAM MENGHADAPI DUNIA KERJA[1]

Oleh: Dr. Khoirurrijal, M.A.   


A.  Pendahuluan                   

Aspek utama yang menjadi perhatian sebelum memasuki dunia kerja adalah aspek persiapan memasuki dunia karir. Persiapan karir merupakan suatu kegiatan atau proses yang berjalan terus menerus. Dengan kata lain, persiapan karir diperlukan suatu proses bagi seseorang yang ingin menekuni karir yang diinginkannya. Sebagaimana menurut W.S. Winkel, persiapan dalam menekuni karir seseorang mampu memahami dirinya dan lingkungannya sehingga semakin mantap dalam karirnya tersebut.[2]
Pendapat yang agak mirip dengan pendapat W.S. Winkel adalah pendapat Harjono yang menyatakan bahwa Kesiapan peserta didik untuk memasuki dunia kerja adalah segala sesuatu yang harus disiapkan dalam melaksanakan sesuatu untuk mencapai suatu tujuan, ada beberapa faktor yang mempengaruhi kesiapan untuk memasuki dunia kerja seperti: motivasi kerja, kemampuan kerja, kemampuan beradaptasi dengan pekerjaan, kemampuan beradaptasi dengan lingkungan, kemampuan berkomunikasi, penguasaan informasi tentang dunia kerja, persepsi tentang prospek karir, peluang untuk mendapatkan kesempatan kerja, dan gambaran pekerjaan yang dikerjakan di dunia kerja.[3]
Sejalan dengan pendapat W.S. Winkel dan Harjono di atas, A. Muri Yusuf menyatakan bahwa memahami berbagai jenis pekerjaan adalah penting bagi pencari kerja maupun bagi yang sudah bekerja. Agar mendapat  pekerjaan yang cocok dengan cirinya, atau untuk memantapkan pekerjaan yang telah didudukinya, seseorang perlu memahami karakteristik tiap jenis pekerjaan, selain itu memahami potensi diri merupakan aspek utama yang perlu menjadi perhatian seseorang, sebelum ia melihat pada dunia kerja yang akan dimasukinya dan beberapa kondisi fisik dan psikologis yang cukup menonjol  dalam menentukan kecendrungan berhasil seseorang dalam melaksanakan suatu aktivitas.[4]
Banyak faktor yang mempengaruhi kesiapan memasuki dunia kerja seperti: motivasi kerja, adalah sesuatu yang mengarahkan timbulnya tingkah laku seseorang, dan memelihara tingkah laku tersebut untuk mencapai tujuan, yaitu suatu dorongan dari dalam diri individu untuk dapat mengerjakan tugas-tugas atau pekerjaan yang bermamfaat bagi diri individu sesuai dengan tujuan yang akan dicapai.
Disamping itu, ada faktor lain yang juga berpengaruh dalam kesiapan memasuki dunia kerja seperti: (a) kemampuan beradabtasi dengan pekerjaan merupakan kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan jenis-jenis pekerjaan, (b) kemampuan beradaptasi dengan lingkungan merupakan kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan, (c) kemampuan berkomunikasi merupakan kemampuan berkomunikasi dengan baik dan benar, (d) penguasan informasi tentang dunia kerja, di mana semakin banyaknya seseorang mendapatkan informasi tentang dunia kerja, maka pandangannya tentang dunia kerja akan semakin baik, (e) persepsi tentang prospek karir merupakan pandangan tentang karir masa depan diramalkan dari masa kini dalam mewujudkan cita-cita masa depan, (f) peluang untuk mendapatkan kesempatan kerja, yaitu mempunyai kepercayaan diri yang tinggi untuk bersaing dalam mendapatkan pekerjaan, dan (g) gambaran pekerjaan yang tersedia merupakan gambaran kerja yang banyak terdapat di dunia usaha.
Ada beberapa aspek yang harus dipersiapkan dalam memasuki dunia kerja, di antaranya adalah sebagai berikut:  
1.    Kepercayan diri, yaitu mempunyai kepercayaan diri yang tinggi dengan bekal pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja.
2.   Komitmen, yaitu kemauan/kesungguhan dalam melaksanakan pekerjaan sesuai dengan aturan yang berlaku.
3.   Inisiatif/kreatif, yaitu mempunyai inisiatif dan kreatifitas yang tinggi dalam mengembangkan suatu keputusan tentang tugas yang di berikan.
4.   Ketekunan dalam bekerja, yaitu mempunyai keyakinan dan kesabaran dalam menyelesaikan pekerjaan.
5.        Kecakapan kerja, yaitu mempunyai kemampuan yang tinggi dalam melaksanakan pekerjaan baik dari segi pengetahuan, maupun keterampilan.
6.   Kedisiplinan, yaitu mempunyai sikap disiplin yang tinggi, patuh dan taat mengikuti segala peraturan dan ketentuan yang berlaku.
7.        Motivasi berprestasi, yaitu mempunyai kemauan yang tinggi untuk mengembangkan diri.
8.       Kemampuan bekerja sama, yaitu mempunyai sikap terbuka dan siap untuk bekerja sama dengan siapa saja dan bekerja dalam satu tim.
9.    Tanggung jawab, yaitu mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap pekerjaan yang diberikan.
10.    Kemampuan berkomunikasi, yaitu mempunyai kemampuan berkomunikasi dengan baik, seperti penguasaan bahasa teknik, bahasa asing dan lain-lain.[5]
Beberapa aspek tersebut di atas erat kaitannya dengan masalah ketenagakerjaan dan dunia kerja di mana membutuhkan tenaga kerja yang mempunyai kopetensi yang baik, di sisi lain dengan globalisasi memiliki sisi positif dan negatif, di satu sisi pasar bebas merupakan peluang bagi dunia kerja dan dunia industeri untuk mengembangkan usahanya di negara lainnya selain negaranya sendiri, sedangkan dampak negatif nya secara terbuka Indonesia akan menjadi serbuan tenaga kerja asing yang secara kualitatif lebih baik dibanding tenaga kerja kita, dan persaingan di dalam dunia kerja, dunia bisnis dan dunia industeri juga kan semakin meningkat karena persaingan tidak hanya dengan sesama pekerja lokal, tetapi sudah dengan pekerja profesional dari negara asing. Ini berarti kita akan segera memasuki persaingan global dalam beberapa aspek pekerja, bisnis, usaha, perdagangan, baik perdagangan umum dan jasa, serta hasil-hasil pertanian, industeri, teknologi, ataupun produksi lainnya.
Dalam mewujudkan peningkatan dunia usaha dan dunia kerja memerlukan sumber daya manusia (SDM) yang memiliki kompetensi yang baik dan siap memasuki dunia kerja.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa kesiapan memasuki dunia kerja merupakan hasil kerja yang di tunjukkan oleh oleh seorang peserta didik. Hal ini mencerminkan dengan indikator sebagai berikut:
1.    Kepercayaan diri;
2.    Rasa Tanggung jawab;
3.    komitmen;
4.    Kemampuan bekerja sama;
5.    Kemampuan bekomunikasi;
6.    Kecakapan kerja;
7.    Ketekunan dalam bekerja;
8.    Kedisplinan kerja; dan
9.    Inisiatif/kreatifitas.[6]
Dari pendapat tersebut, terlihat bahwa seseorang yang akan menekuni karir atau sebelum memasuki dunia kerja harus mempersiapkan diri  atau memiliki persiapan dalam memahami diri dan  lingkungannya dan memahami karakteristik tiap jenis pekerjaan, memahami potensi diri, serta kondisi fisik dan psikologis perlu menjadi persiapan bagi seseorang dalam memasuki dunia kerja.      

B. Peran dan Pengaruh Bahasa dan Sastra Arab  
Bahasa Arab merupakan salah satu bahasa mayor di dunia yang dituturkan oleh lebih dari 200.000.000 umat manusia. Bahasa ini digunakan secara resmi oleh kurang lebih 20 negara, karena bahasa Arab merupakan bahasa kitab suci dan tuntunan agama Islam sedunia, maka tentu saja ia merupakan bahasa yang paling besar pengaruhnya bagi ratusan juta muslim sedunia, baik yang berkebangsaan Arab maupun non Arab.[7]
Dewasa ini bahasa Arab merupakan bahasa yang peminatnya cukup besar di dunia Barat. Di Amerika misalnya, hampir tidak ada suatu perguruan tinggi yang tidak menjadikan bahasa Arab sebagai salah satu mata kuliah, termasuk perguruan tinggi Katholik atau Kristen. Sebagai contoh, Harvard University, sebuah perguruan tinggi swasta paling terpandang di dunia yang didirikan oleh para ‘alim ulama’ protestan dan Georgetown University, sebuah universitas swasta Katholik, keduanya mempunyai pusat studi Arab yang kurang lebih merupakan Center for Contemporary Arab Studies.[8]
Di Afrika, bahasa Arab kini dituturkan dan menjadi bahasa pertama di negara-negara semacam Mauritania, Maroko, Aljazair, Libya, Mesir dan Sudan. Di semenanjung Arabia, bahasa ini merupakan bahasa resmi di Oman, Yaman, Bahrain, Kuwait, Saudi, Qatar, Emirat Arab, dan jauh ke Utara, Jordan, Irak, Syiria, Libanon dan Palestina. Menurut Wise, bahasa Arab juga merupakan bahasa orang-orang India Utara, sebagian orang Turki, Iran, Portugal dan Spanyol.[9]
Bahasa Arab merupakan bahasa kitab suci al-Qur’an dan Hadis Nabi Muhammad Saw yang memiliki nilai sastra yang tinggi, bahasa Arab adalah bahasa agama dan umat Islam, bahasa resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), bahasa nasional lebih dari 22 negara di kawasan Timur Tengah, lughat al-dhat, dan bahasa warisan sosial budaya (lughat at-turats).
Jâbir Qumaihah, misalanya menegaskan bahwa bahasa Arab merupakan bahasa yang mendapat garansi dan “proteksi Ilahi” (al-himâyah al-Ilahiyyah), seiring dengan digunakannya bahasa Arab sebagai “wadah ekspresi” al-Qur’an (wi’â’ alQur’an). Bahasa Arab juga dipandang sebagai bahasa yang sangat orisinal; tidak memiliki masa kanak-kanak sekaligus masa renta.[10] Perkembangannya sudah berlangsung lama, bahkan mungkin sudah ada jauh sebelum Masehi. ‘Abbâs al-‘Aqqâd, seperti dikutip oleh Abd al Shabûr Syâhîn[11] menyatakan bahwa budaya Arab telah ada jauh sebelum budaya Yunani. Budaya Arab telah lahir lebih dari 2000 tahun yang lalu. Warganya menjuluki mereka dengan nama Arab sebagaimana orang lain juga menyebut mereka dengan nama tersebut. Mereka berdomisili di jazirah Arabia sebelum mengadakan emigrasi ke beberapa tempat di sekitarnya. Karena itu, dapat dipastikan bahwa bahasa Arab telah eksis di jazirah Arabia dari sejak 3000 tahun yang lalu. Hanya saja, perkembangan bahasa Arab hingga turunnya al-Qur’an kurang mendapat perhatian dan pengkajian dari para ahli. Hal ini boleh jadi disebabkan karena minimnya informasi dan data terkait dengan perkembangan bahasa Arab pra-Islam di satu segi, dan di segi lain karena para sarjana lebih tertarik kepada fenomena bahasa Arab yang kemudian dijadikan oleh Allah sebagai bahasa kitab suci al-Qur’an, yang kebetulan saat itu, bahasa dan sastra Arab mencapai puncak kefashahan dan kejayaannya.
Meskipun al-Qur’an adalah kalam Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Saw, bahasa Arab tetap merupakan bahasa manusia atau produk budaya bangsa Arab. Ia bukan bahasa Tuhan atau malaikat.[12] Sebagai produk dan subsistem budaya, bahasa Arab mempunyai dimensi linguistik, humanistik, sosio-kultural, dan pragmatik. Bahasa Arab pada dasarnya tunduk kepada (mengikuti) sistem linguistik yang telah menjadi kesepakatan penutur bahasa ini, baik sistem fonologi, leksikologi, morfologi, sintaksis maupun semantik.
Kendatipun sebagai bahasa Al-Qur’an yang memiliki sastra tinggi, bahasa Arab tidak perlu disakralkan atau dianggap sebagai bahasa suci, melainkan cukup diposisikan sebagai bahasa terhormat dan diberi apresiasi tinggi karena ia merupakan bahasa Al-Qur’an, bahasa yang digunakan dalam sebagian besar ibadah ritual, dan bahasa budaya Islam (lughah al-tsaqâfah al-Islâmiyyah). Pendapat Yusuf al Qaradhawi  ini mengisyaratkan bahwa bahasa Arab adalah sebuah sistem sosial-budaya yang terbuka untuk dikaji, dikritisi, distudi, dan dikembangkan.[13] Sebagai subsistem budaya, bahasa Arab merupakan salah satu bahasa  Semit yang dinilai paling tua dan tetap eksis hingga sekarang.[14]
Kemampuan  bahasa Arab tetap eksis hingga sekarang, antara lain, disebabkan oleh posisinya sebagai bahasa pilihan Tuhan untuk kitab suci-Nya (al-Qur’an). Meskipun fungsinya lebih merupakan media ekspresi kitab suci bagi masyarakat Arab (tempat/lokasi Nabi Muhammad Saw. mendakwahkan ajaran Islam), bahasa Arab merupakan bahasa yang telah mencapai puncak “kedewasaan dan kematangannya”. Hal ini, antara lain, terbukti dari penggunaan bahasa Arab sebagai bahasa sastra dan pemersatu pada masa Jahiliyyah.  Selain itu, bahasa Arab hingga kini juga menjadi bahasa yang mampu menampung kebutuhan para penggunanya dan menyerap berbagai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam berbagai bidang.[15]
Posisi bahasa Arab menjadi semakin kuat dan menjadi bahasa standar dari sekian banyak ragam lahjah (dialek) bahasa Arab. Bersamaan dengan itu pula, terbangunlah sinergi simbiosis antara bahasa Arab dan al-Qur’an. Daya tarik terhadap kajian al-Qur’an pada saat yang sama juga mendorong munculnya kajian terhadap bahasa dan sastra Arab, sehingga lahirnya berbagai ilmu-ilmu keislaman dan kesusastraan. Dari sekian banyak bahasa di dunia, yang dipakai secara luas dalam bahasa lisan, tulisan, ilmu pengetahuan dan teknologi, di antaranya bahasa Inggris, Jerman, Spanyol, Cina, Arab dan sebagainya. Bahasa Arab adalah bahasa Istimewa, Allah SWT berkenan berbicara kepada umat manusia dengan bahasa Arab lewat al-Qur’an al-Karim.
Al-Qur’an al-Karim diturunkan dalam bahasa Arab, karena bahasa Arab adalah bahasa yang fasih, jelas, luas dan maknanya sangat mengena untuk jiwa manusia serta istimewa karena Allah menurunkan wahyu-Nya dengan bahasa Arab yang memiliki sastra yang tinggi. Allah AWT bukan tidak tahu bahwa manusia mempunyai ribuan jenis bahasa, namun Allah SWT menetapkan bahwa hanya ada satu bahasa yang digunakannya untuk memberi petunjuk untuk umat manusia, yaitu bahasa Arab.

A.              C. Bahasa dan Sastra Arab Ditengah Arus Globalisasi           
Bahasa dan Sastra Arab sampai saat ini masih merupakan bahasa dan sastra yang tetap bertahan dan mendunia sejajar dengan bahasa-bahasa lainnya, yaitu Inggris dan Perancis. Angka Arab seperti 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7,8 9, 10 dan seterusnya merupakan kontribusi bahasa Arab dalam usaha mempermudah hitungan dan penulisan, angka Romawi yang kurang realistis. Itulah sebabnya, di dalam semua kamus bahasa Inggris, angka-angka tersebut dinamakan “Arabic Numerals” atau “Angka Arab”. Hal itu membuktikan bahwa bahasa Arab tidak dapat disangkal sama sekali. Bahasa Arab merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan umat Islam di seluruh penjuru dunia. Oleh karena itu, mempelajari dan menguasai bahasa Arab menjadi keperluan hakiki setiap muslim. Baginya, bahasa Arab perlu untuk membentuk pribadi sebagai muslim dan meningkatkan kualitas keimanan dan pemahaman terhadap ajaran agama, bahkan perlu sebagai sarana dakwah penyebaran agama Islam.
Bahasa Arab perlu dipandang sebagai bahasa agama dan bukan sebagai bahasa budaya, etnis, kawasan, maupun negara tertentu saja. Itu ditandai dengan banyaknya tokoh dan ulama muslim yang berasal dari bukan kawasan Arab, seperti Abu Aswad Al Dauli, Al-Biruni, Al Al-Kindi, Ghazali, Ibnu Sina, Al-Razi, dsb., namun menguasai bahasa Arab sebagai bagian dari studi Islam yang mereka tekuni. Selain itu, agama Islam yang salah satu unsurnya adalah bahasa Arab, seyogyanya menjadi budaya yang dominan mewarnai kehidupan umat Islam di tingkat perseorangan, keluarga, dan masyarakat.
Berseberangan dengan hal tersebut, harus diakui bahwa ada upaya kalangan kolonial dan sekuler untuk meminggirkan dan menjauhkan bahasa Arab dan sejumlah budaya keislaman dari kehidupan umat Islam. Dari segi upaya akademis, ada salah satu contoh, Al-Munjid, yaitu kamus bahasa Arab yang sangat kurang memasukkan unsur-unsur Arab yang terkait dengan keislaman. Kamus itu disusun oleh akademisi Khatolik Libanon, Louis Maluf. Selain itu, secara kultural, ada upaya pula yang ingin diterapkan dan disebarluaskan di kalangan masyarakat Arab, yaitu pemopuleran penggunaan bahasa Arab kolokial (dialek lokal) dan pengesampingan penggunaan bahasa Arab standar (fusha). Hal itu berakibat pada minimnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat Arab sendiri terhadap bahasa Arab yang resmi dan standar.
Ada satu keuntungan yang dimiliki bahasa Arab standar, yaitu pemertahanannya yang langsung melibatkan peran Allah melalui turunnya Al-Qur’an sebagai wahyu Allah yang berbahasa Arab. Secara politis internasional, bahasa Arab kini sudah diakui sebagai bahasa internasional dan digunakan juga sebagai salah satu bahasa diplomasi resmi diforum Perserikatan Bangsa-bangsa. Beberapa negara non Arab di dunia, seperti Malaysia, bahkan sudah mengakui bahasa Arab di negaranya dan memberikana apresiasi berupa adanya tulisan-tulisan berbahasa Arab di tempat-tempat umum. Dalam hal perkembangan situasi ekonomi global, bahasa Arab mengambil tempat dan peran yang sangat penting. Itu ditunjukkan dengan semakin pentingnya kawasan Timur Tengah, yang notabene mayoritas masyarakatnya berbahasa Arab, sebagai pusat sumber daya energi dan mineral dunia.
Berbagai kalangan di dunia yang berkepentingan dan ingin membuka jalur komunikasi internasional dengan negara-negara Timur Tengah, maka harus berpikir dan mengambil sikap bahwa mereka sangat membutuhkan penguasaan bahasa Arab. Jika tidak, hal itu akan menjadi hambatan dalam menjalin hubungan dengan Negara-negara di Timur Tengah.
Dengan semakin banyaknya berbagai kalangan yang berkepentingan dengan Negara-negara di Timur Tengah, maka Negara-negara di Timur Tengah adalah primadona baru yang sedang merebut perhatian banyak kalangan di dunia. Itu ditandai pula dengan semakin banyaknya lembaga dan perusahaan dari luar Arab yang berdatangan dan membuka kantor  resminya di negara-negara Timur Tengah. Mereka yang berdatangan itu menyadari bahwa bahasa Arab, selain bahasa Inggris dan Prancis adalah syarat utama komunikasi dan diplomasi sekaligus pendekatan dengan masyarakatdan negara-negara Timur Tengah.
Tidak hanya proses masuknya investasi asing ke Timur Tengah yang memerlukan bahasa Arab. Berbagai negara, termasuk Indonesia, yang menyadari pentingnya kawasan Timur Tengah sebagai mitra, menyadari bahwa banyak pula harapan akan masuknya investasi negara-negara Arab ke Negara mereka, termasuk pula Indonesia.
Di Indonesia bahkan sudah ada beberapa perwakilan perusahaan dan lembaga keuangan Asing yang membuka kantor di Indonesia. Itu memang tak terlepas dari peran aktif dan keseriusan pemerintah Indonesia untuk mengundang investor yang berasal dari Negara-negara Timur Tengah untuk datang ke Indonesia. Dalam hal ini, proses komunikasi, diplomasi, dan negosiasi bilateral tentulah membutuhkan bahasa Arab sebagai alat komunikasi yang paling efektif.
Sayangnya, harus diakui bahwa tenaga-tenaga ahli yang menguasai bahasa Arab, seperti diplomat masih sedikit jumlahnya. Padahal kebutuhan akan hal itu kini begitu tinggi. Hal itu sekaligus menjadi peluang dan tantangan bagi masyarakat Indonesia, khususnya mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab (BSA) untuk melihat situasi yang sudah berubah di mana hubungan Indonesia dengan Negara-negara di kawasan Timur Tengah yang semakin intensif dan semakin terbukanya peluang kerja dan berpikir ulang bahwa bahasa Arab kini bukan bahasa kelas tiga, akan tetapi sudah menjadi bahasa yang penting dan mutlak perlu dipelajari.
Perubahan situasi tersebut di atas, jelas menguntungkan masyarakat dan bangsa Indonesia. Namun, keuntungan itu hanya akan dinikmati jika proses komunikasi antar budaya dan antar negara yang berlangsung dijembatani oleh pemahaman bahasa dan budaya yang baik. Jika bangsa dan masyarakat Indonesia tidak memahami bahasa dan budaya Arab dengan baik, maka semua rencana besar menyangkut politik, ekonomi dan lainnya antar Negara, maka akan sulit terwujud dan akan menjadi keprihatinan nasional. Negara ini akan tetap mengalami kerugian besar hanya karena tidak bisa berkomunikasi dan mendekati secara kultural orang-orang Arab yang sesungguhnya kini mulai tertarik dan bahkan berlomba untuk masuk menanamkan modalnya di Indonesia, meski negara ini dengan tegas menyatakan kepada Negara-negara di Timur Tengah bahwa pemerintah membuka pintu yang seluas-luasnya dan selebar-lebarnya serta memberikan banyak fasilitas khusus kepada mereka.
Tak diragukan lagi pentingnya bahasa dan Sastra Arab bagi umat Islam, terutama  bahasa Al-Qur’an dan Hadits, dua pilar pokok dalam Islam. Hal yang wajar dan tak bisa disederhanakan, apalagi dituduh arabisme ketika Imam Syafi’i dalam ar-Risalahnya, disusul kemudian pengarang kitab yang lagi digandungi sarjana Islam Imam Syathibi dalam Muwafaknya, mensyaratkan bagi siapa-siapa yang mau berijtihad untuk terlebih dahulu menguasai ilmu bahasa Arab. Bahasa Arab juga adalah bahasa Ilmu, terutama keilmuan Islam klasik.
Beratus-ratu ribu buku dari berbagai disiplin ilmu warisan nenek moyang kita memakai bahas Arab. Keistimewaan lain bahasa Arab, dibanding bahasa-bahasa dunia lainnya, adanya ikatan kuat dengan agama. Karena kitab suci agama Islam diturunkan dengan bahasa Arab. Sementara bahasa asli Taurat dan Injil kini sudah punah. Pada masanya dulu, tepatnya sebelum Barat memasuki masa renaissance, berabad-abad lamanya bahasa Arab jadi bahasa dunia. Ia merupakan bahasa politik, ekonomi, bahkan dunia keilmuan.
Ada beberapa sebab yang membuatnya jadi bahasa peradaban dunia, di mana setiap orang yang berkeinginan maju, merasa berkewajiban menguasainya. Diantaranya yang paling penting adalah adanya proyek Arabisasi buku-buku administrasi pemerintahan pada masa dinasti Mu’awiyah (Khalifah Abd. Malik 685-705 M dan anaknya al-Walid 705710 M) yang mau tidak mau memaksa para pegawai pemerintahan yang tak bisa berbahasa Arab untuk belajar bahasa Arab dan proyek terjemahan, terutama buku-buku keilmuan, secara besar-besaran pada masa dinasti Abasiah (200 H/ 900 M), dari bahasa Yunani, India, Suryani ke dalam bahasa Arab, yang mengakibatkan orang Islam menjadi bangsa yang luar biasa kreatif dan kemudian menjadikan Islam sebagai kiblat keilmuan dan peradaban dunia. Keadaan di atas itu terjadi dulu. Kalau kita amati sekarang, kondisinya akan tampak berbalik. Apalagi sejak memasuki era globalisasi, keadaannya makin mengkhawatirkan. Bahasa Arab perlahan tapi pasti posisinya mulai tergusur, dan bahasa Inggris menjadi bahasa nomor satu dunia. Permasalahannya tidak berhenti sampai di situ. Akibat globalisasi zaman, dan budaya konsumtif yang tinggi di kalangan negara Arab, ditambah ledakan informasi, secara sadar atau tidak sadar, bahasa Inggris masuk ke dalam sistem-sistem sosial di kalangan Arab sendiri. Misalnya, dalam bidang pendidikan, banyak sekolah-sekolah di sana, terutama dalam mata pelajaran eksakta: Kimia, Fisika, Matematika dan biologi, bukunya menggunakan bahasa Inggris. Begitu juga dalam dunia teknologi, kosa kata asing tidak bisa dibendung. Celakanya kemudian bahasa itu diterima apa adanya, karena secara level sosial akan dinggap sebagai orang modern. Perubahan kalimat asing hanya dari sisi tulisan dari Latin ke Arab, bunyi tetap sama: laptop, mouse, keybord, mobile, oke, dan lain-lain.
Kondisinya tidak seperti pada abad kedua Hijriah dulu. Walaupun kosa-kata Asing banyak bermunculan, tetapi tidak langsung dimakan mentah-mentah. Ada proses yang sangat ketat, di mana kosa kata Asing sedapat mungkin dicarikan kosa kata yang semakna, kalau tidak ada dilakukan penerjemahan, kemudian kalau masih tidak bisa baru diterima apa adanya.
Himbauan kepada seluruh Lembaga Kajian Bahasa Arab saja tidak cukup, karena serangan-serangan yang dimunculkan oleh Negara-negara Asing untuk memarjinalkan Bahasa Arab akan terus menerus, bahkan semakin dahsyat selama mereka tidak meneladani generasi awal Islam yang menjadi bangsa yang sangat kreatif, menjadi produsen. Para ulama Muslim sepakat bahwa mempelajari dan menguasai bahasa Arab adalah sangat penting dalam dunia kajian keislaman.

D.               D. Tantangan Bahasa dan Sastra Arab (BSA)    
Menurut ‘Abd al-Shabûr Syâhîn, pendidikan bahasa Arab dewasa ini dihadapkan pada berbagai tantangan yang serius. Tantangan-tantangan itu harus menjadi perhatian umat Islam sedunia, termasuk Indonesia agar bahasa Arab tetap eksis sebagai bahasa komunikasi dunia. Adapun tantangan-tantangan tersebut adalah sebagai berikut: [16]
Pertama, akibat globalisasi, penggunaan bahasa Arab fusha di kalangan masyarakat Arab sendiri mulai berkurang frekuensi dan proporsinya, cenderung digantikan dengan bahasa Arab ‘âmmiyah atau dialek lokal (allahajât al-mahalliyah). Jika jumlah negera Arab berjumlah 22 negera, berarti paling tidak ada 22 ragam bahasa ‘âmmiyah. Hal ini belum termasuk dialek suku-suku dan kawasan-kawasan tertentu. Misalnya, dialek lokal Iskandaria (Alexandria) tidak sama dengan dialek Thantha, dan sebagainya. Dewasa ini, terutama di kalangan generasi muda Arab, terdapat kecenderungan baru, yaitu munculnya fenomena al-fush’amiyyah, yakni campuran ragam fusha dan ‘âmmiyah. Gejala ini merupakan tantangan serius bagi dunia pendidikan karena terjadi degramatisasi atau pengeleminasian beberapa gramatika (qawâ’id). Kaedah-kaedah bahasa yang baku kurang diperhatikan, sementara pembelajaran qawâ’id pada umumnya tidak efektif. Kultur fush’amiyyah lebih dominan daripada kultur akademik yang memegang teguh kaedah-kaedah bahasa Arab. Bahkan di kalangan Perguruan Tinggi Mesir, termasuk di Fakultas Adab, sebagian besar dosennya banyak menggunakan ragam baru ini.
Kedua, masih menurut Syâhîn, realitas bahasa Arab dewasa ini juga dihadapkan pada tantangan globalisasi, tepatnya tantangan pola hidup dan kolonialisasi Barat, termasuk penyebarluasan bahasa Arab di dunia Islam. Kolonialisasi ini, jika memang tidak sampai menggantikan bahasa Arab, minimal dapat mengurasi prevalensi penggunaan minat belajar bahasa Arab di kalangan generasi muda.
Ketiga, derasnya gelombang pendangkalan akidah, akhlak, dan penjauhan generasi muda Islam dari sumber-sumber ajaran Islam melalui pencitraan buruk terhadap bahasa Arab. Dalam waktu yang sama terjadi kampanye besar-besaran atas nama globalisasi untuk menyebarkan dan menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa yang paling kompatibel dengan kemajuan teknologi.
Farîd al-Anshârî (2014) menambahkan bahwa agenda neokolonialisasi globalisme yang dilancarkan Barat terhadap dunia Islam dewasa ini memang dimaksudkan untuk membunuh karakter dan identitas budaya, terutama Arab. Hal ini, antara lain, dapat dilihat dari arogansi Amerika Serikat, baik menyangkut kebijakan politik luar negerinya maupun perilaku politiknya, terhadap dunia Islam, khususnya Timur Tengah. Negara Adidaya ini seringkali mencampuri  urusan dalam negara-negara Islam, baik melalui intervensi langsung maupun melalui operasi agen-agen rahasianya yang terkenal lihai dan licin. Salah satu agenda yang diselundupkan ke dunia Arab adalah penghilangan atau pendangkalan identitas bahasa dan budaya Arab, marjinalisasi sumber-sumber ajaran Islam dari sistem pendidikan di dunia Islam, dan sekularisasi dalam berbagai aspek kehidupan.
Selain ada upaya penggantian huruf Arab dengan latin, bahasa Arab pada lembaga pendidikan di dunia Islam juga mulai digeser –meskipun belum sampai digantikan—oleh bahasa Inggris atau Perancis sebagai bahasa pengantar untuk pembelajaran sains. Berbagai siaran langsung olah raga di dunia Arab, terutama sepakbola, yang disiarkan dari Barat (liga Inggris, Spanyol, Italia, Perancis, atau Belanda) sudah banyak menggunakan bahasa Inggris. Demikian pula, program tayangan televisi di dunia Arab juga sudah banyak dipengaruhi oleh gaya dan pola hidup Barat yang sekuler dan materialistik. Akibatnya, minat dan motivasi untuk mempelajari bahasa Arab secara serius menjadi menurun.  Semantara itu, di Indonesia, kita cenderung hanya mempelajari bahasa Arab fusha, dengan rasionalitas bahwa bahasa Arab fusha itu merupakan bahasa al-Qur’an dan al-Sunnah, karena tujuan utama studi bahasa Arab adalah untuk kepentingan memahami sumber-sumber ajaran Islam. Sebagian kalangan –boleh jadi karena ketidaktahuan bahasa Arab ‘âmmiyah— cenderung anti bahasa Arab ‘âmmiyah, karena mempelajari bahasa Arab pasaran itu dapat merusak bahasa Arab fusha.
Tudingan sementara pihak bahwa upaya mengganti bahasa Arab fusha dengan âmmiyah  merupakan usaha kaum orientalis agar umat Islam menjauhi atau tidak dapat memahami al-Qur’an dengan baik juga tidak sepenuhnya benar. Sebab, bagaimana mungkin orientalis Barat mendiktekan kemauan mereka untuk berbahasa Arab âmmiyah, sedangkan mereka sendiri (para orientalis) secara akademis mempelajari bahasa Arab fusha sebelum mengkaji budaya dan peradaban Timur (Islam). Bahasa Arab fushha akan tetap lestari meskipun orang-orang Arab sendiri lebih suka berbahasa Arab âmmiyah. 
Kecenderungan berbahasa Arab âmmiyah tampaknya lebih didasari oleh kepentingan dan tujuan pragmatis, yaitu: komunikasi lisan yang lebih mengutamakan aspek kepraktisan, simpel, dan cepat. Namun demikian, maraknya penggunaan bahasa Arab âmmiyah tetap merupakan sebuah tantangan yang dapat mengancam atau setidak-tidaknya mengurangi mutu kefashihan orang atau bangsa Arab pada umumnya. Orientasi studi bahasa Arab pada lembaga pendidikan kita tampak masih mendua dan setengah-setengah: antara orientasi kemahiran, dan orientasi kailmuan. Keduanya memang perlu dikuasasi oleh mahasiswa, namun salah satu dari keduanya perlu dijadikan sebagai fokus: apakah bahasa Arab diposisikan sebagai studi keterampilan yang berorientasi kepada pemahiran mahasiswa dalam empat keterampilan bahasa secara mumpuni ataukah bahasa Arab diposisikan sebagai disiplin ilmu yang berorientasi kepada penguasaan, tidak hanya kerangka epistemologinya, melainkan juga substansi dan metodologinya. 
Selain itu, kebijakan pendidikan dan pengajaran bahasa Arab di madrasah dan lembaga pendidikan lainnya, selama ini, juga tidak menentu. Ketidakmenentuan ini dapat dilihat dari beberapa segi.
Pertama, dari tujuan, terdapat kerancuan antara mempelajari bahasa Arab sebagai tujuan (menguasai kemahiran berbahasa) dan tujuan sebagai alat untuk menguasai pengetahuan yang lain yang menggunakan bahasa Arab (seperti mempelajari tafsir, fiqh, hadits, dan sebagainya).
Kedua, dari segi jenis bahasa Arab yang dipelajari, apakah bahasa Arab klasik (fusha turâts), bahasa Arab modern/kontemporer (fusha mu’âshirah) atau bahasa Arab pasaran (‘âmmiyyah).
Ketiga, dari segi metode, tampaknya ada kegamangan antara mengikuti perkembangan dan mempertahankan metode lama. Dalam hal ini, bahasa Arab banyak diajarkan dengan menggunakan metode qawâ’id wa tarjamah.
Tantangan lainnya yang juga tidak kalah pentingnya dalam pengembangan pendidikan bahasa Arab adalah rendahnya minat dan motivasi belajar serta kecenderungan sebagai pelajar atau mahasisiwa bahasa dan sastra Arab untuk mengambil jalan yang serba instan, tanpa menulis proses ketekunan dan kesungguhan. Hal ini terlihat dari karya-karya dalam bentuk makalah dan skripsi yang agaknya cenderung merosot atau kurang berbobot mutunya. Mahasiswa yang sudah berada di dunia bahasa dan sastra Arab seakan tidak betah dan ingin mencari dunia lain, sehingga ni perlu disurvei dan dibuktikan secara akademis tidak sedikit yang mengeluh bahwa jurusan bahasa dan sastra Arab itu sebetulnya bukan habitat mereka yang sesungguhnya.        

E.               E. Peluang Bahasa dan Sastra Arab (BSA)
Di balik beberapa tantangan akan memberikan peluang jika hal itu disikapi dengan bijak, termasuk tantangan yang kini dihadapi oleh para mahasiswa BSA di dunia kerja. Peluang tersebut adalah sebagai berikut:
Pertama, peluang untuk pengembangan bahasa dan Sastra Arab semakin terbuka, karena seseorang yang menguasai bahasa dan Sastra Arab dapat dipastikan memiliki  modal dasar untuk mendalami dan mengembangkan kajian bahasa dan sastra Arab dari sisi keindahan dalam berbahasa Arab.
Kedua, meningkatkan tradisi penelitian di bidang bahasa dan sastra Arab. Hal ini perlu dilakukan agar ilmu bahasa dan sastra Arab semakin berkembang dinamis dan maju. Melalui peningkatan penelitian, tentu saja, karya akademik dapat dihasilkan, dan pada gilirannya mahasiswa dan dosen BSA menjadi lebih tercerahkan. Oleh karena yang selama ini menjadi hambatan – setidak-tidaknya kurang mengundang minat meneliti—adalah rendahnya dana penelitian, maka dipandang penting para pimpinan STAIN, IAIN dan UIN mewajibkan para dosen dan mahasiswanya untuk meneliti dan/atau menulis karya-karya akademik yang relevan dengan bidang keilmuannya. Kebijakan wajib meneliti ini, tentu saja, harus dibarengi dengan pemberian insentif yang memadai sehingga membuat Para peneliti menjadi khusyu’, tekun, dan menikmati penelitiannya.
Ketiga, intensifikasi penerjemahan karya-karya berbahasa Arab, baik penerjemahan berupa novel, buku, tulisan dan sebagainya ke dalam bahasa Indonesia dan/atau sebaliknya. Profesi ini cukup menantang dan menjanjikan harapan, meskipun penerjemah relatif belum mendapat apresiasi yang sewajarnya. Menarik dicatat bahwa salah satu faktor yang mempercepat kemajuan peradaban Islam di masa klasik adalah adanya gerakan penerjemahan besar-besaran, terutama pada masa Hârûn al-Rasyîd (786-809 M) dan al-Ma’mûn (786-833 M). Gerakan penerjemahan itu disosialisasikan dengan ditunjang oleh adanya pusat riset dan pendidikan seperti Bait al-Hikmah (Wisma Kebijaksanaan).
Keempat, Interpreter, Pekerjaan ini juga cocok menjadi peluang kerja bagi mahasiswa dan lulusan BSA yang suka menerjemahkan bahasa. Walaupun bertugas mirip dengan seorang translator, namun pekerjaan Interpreter berbeda dalam penyampaiannya. Interpreter bertugas menerjemahkan bahasa Arab secara lisan dan langsung tanpa menulisnya. Sehingga, seorang interpreter harus berkonsentrasi tinggi dalam menerjemahkan orang yang berbicara.  Interpreter sering digunakan saat pertemuan antar Negara dunia dengan berlatar belakang bahasa yang berbeda.
Kelima, pengembangan media dan teknologi pembelajaran bahasa dan Sastra Arab. Kita selama ini masih lemah atau belum mumpuni dalam menciptakan produk media dan teknologi, sehingga proses pembelajaran bahasa dan Sastra Arab di lembaga STAIN, IAIN dan UIN masih belum mendapat sentuhan modernitas yang bercirikan: mudah, cepat, tepat, dan efektif. Karena itu, tenaga yang menekuni bidang ini perlu dihasilkan atau dimiliki oleh BSA. Dengan kata lain, para dosen dan mahasiswa BSA perlu bermitra dan bersinergi dengan SDM yang memiliki kompetensi untuk mengembangkan teknologi pendidikan dan pembelajaran bahasa dan Sastra Arab modern. Dengan begitu, tampilan atau performansi pembelajaran bahasa dan sastra Arab akan memiliki nilai tambah dan daya tarik yang berarti. 
Keenam, sudah saatnya mahasiswa BSA melahirkan karya-karya ilmiah dari hasil  penelitian, penulisan jurnal, penulisan buku kesusastraan Arab, dan sebagainya yang dapat memberikan pencerahan bagi masyarakat. Lahan pemikiran BSA sejauh ini belum tergarap dengan baik, sehingga dalam hal ini masih miskin melahirkan karya-karya ilmiah bahasa dan sastra Arab.
Ketujuh, mahasiswa BSA turut serta dalam pengembangan produk ekonomi kreatif, seperti membuat film, drama dan syair bahasa Arab fusha yang ditayangkan di berbagai TV di Indonesia. Jika diperhatikan, masih minim film, drama dan syair bahasa Arab yang ditayangkan di berbagai TV di Indonesia di mana mayoritas penduduknya beragama Islam.
Kedelapan, mengintensifkan kerjasama dengan pihak luar, termasuk dalam kerjasama ini melibatkan Kementerian Luar Negeri, agar pos-pos yang bernuansa bahasa dan sastra Arab dapat diisi oleh para lulusan BSA, yang meminati karir di bidang diplomasi dan politik. Jika program peminatan atau konsentrasi yang terkait dengan bahasa dan Sastra Arab dapat dikembangkan, maka peluang untuk memperoleh lapangan pekerjaan bagi alumni BSA menjadi lebih terbuka dan kompetetif. Oleh karena itu, pembenahan internal, terutama penjaminan mutu akademik dan peningkatan kapasitas dan kapabilitas SDM yang mengabdikan diri pada BSA mutlak harus didisiplinkan, baik dari segi keilmuan maupun kesejahteraannya.
Kesembilan, saatnya mahasiswa BSA yang memiliki hobi suka menulis dan ingin banyak uang, tidak salah jika ingin mencoba menjadi blogger dengan memilih topik blog dalam bahasa Arab yang tentunya akan dibaca oleh seluruh orang dari seluruh dunia. Dilansir dari situs Forbes, banyak sekali blog/website yang dapat menghasilkan uang dari internet seperti Huffington Post ($ 14 juta/bulan), Mashable ($ 2 juta/bulan), dan seterusnya. Akan tetapi untuk menjadi blogger tidaklah mudah, diperlukan ketekunan, kesabaran dan kerja keras untuk mendatangkan pengunjung blog yang banyak.
Kesepuluh, Freelance Writer, menjadi pilihan bagi mahasiswa maupun lulusan BSA yang ingin bekerja tidak terikat dengan waktu dan bisa dikerjakan dimana saja. Terlebih bahasa Arab yang banyak digunakan di seluruh dunia sebagai bahasa internasional, sehingga tak heran jika Freelance Writer menjadi prospek dan peluang kerja bagi mahasiswa dan lulusan BSA. Freelance writer dapat bertugas menulis suatu majalah atau publikasi online melalui situs penyalur freelance, seperti UpWork, Freelancer, Indeed, dan lain-lain. Bagi mahasiswa BSA bisa bekerja part time sebagai Freelance Writer.
Kesebelas, Dosen/Guru/Pendidik. Semakin hari semakin banyak yang ingin belajar bahasa dan sastra Arab. Hal itu tentu membutuhkan seorang pengajar bahasa dan Sastra Arab. Nah mahasiswa dan lulusan BSA bisa mengambil peran menjadi pengajar bahasa dan sastra Arab. Menjadi pengajar adalah peluang yang tepat dalam memilih peluang kerja bagi lulusan BSA.
Keduabelas, ahli bahasa. Untuk menjadi ahli bahasa, maka mahasiswa harus menguasai bahasa dengan baik. Seorang sarjana BSA memiliki peluang untuk menjadi ahli bahasa Arab. Ahli bahasa berbeda dengan penerjemah karena ahli bahasa bertugas dalam mempelajari dan meneliti tentang bahasa, terutama bahasa Arab.
Ketigabelas, Organisasi dan Lembaga Internasional. Banyak sekali lembaga maupun organisasi internasional yang membutuhkan lulusan BSA dalam pekerjaannya. Lembaga internasional tersebut tentunya menangani berbagai masalah yang ada di dunia, seperti ASEAN, WHO yang menangani bidang kesehatan, UNESCO yang menangani bidang pendidikan, dan lain sebagainya.
Keempatbelas, Diplomat. Prospek kerja lulusan BSA tentu sangat besar untuk menjadi diplomat dengan kemampuan bahasa Arabnya. Tugas seorang diplomat adalah mewakili suatu Negara untuk melakukan diplomasi atau mewakili Negara dalam suatu pertemuan. Seorang diplomat harus mampu melakukan negosiasi yang terbaik, sehingga Negara yang diwakilinya dapat memperoleh keuntungan darinya.
Kelimabelas, Editor atau Penyunting. Pekerjaan ini menjanjikan lulusan BSA. Editor atau penyunting bahasa Arab berperan dalam membaca dan menilai naskah, kemudian mengedit, mengoreksi tulisan berbahasa Arab. Editor di sini dapat berupa editor majalah, buku, artikel website dan sebagainya.
Keenambelas, PNS. Pegawai Negeri Sipil tetap menjadi idola bagi masyarakat Indonesia, terutama lulusan BSA. Hal ini dikarenakan PNS merupakan profesi yang dikenal dengan jaminan masa tua yang jelas dan menjadi pekerjaan yang mapan. Walaupun gaji PNS tidak sebesar gaji dari swasta, akan tetapi PNS mempunyai tunjangan yang lumayan.
Ketujuhbelas, Tour Guide atau pemandu wisata. Pekerjaan ini memjadi popular di kalangan lulusan BSA. Banyak bermunculan tempat wisata yang tentunya mendatangkan orang Asing yang memerlukan penjelasan mengenai wisata tersebut dalam bahasa Arab yang mudah dipahami. Sebagai mahasiswa BSA memiliki peluang untuk bekerja part time untuk menjadi seorang tour guide atau pemandu wisata di lokasi wisata.
Kedelapanbelas, Bekerja di Perusahaan Besar. Perusahaan tentunya membuka lebar peluang kerja lulusan BSA yang ingin berkarir di tempatnya. Perusahaan tentunya akan melibatkan pihak luar atau perusahaan skala internasional yang memerlukan komunikasi bahasa Arab.
Kesembilanbelas, Wirausaha. Bagi lulusan BSA yang berani mengambil keputusan ingin bekerja mandiri maupun mendirikan perusahaan dapat menjadi wirausahawan atau wirausahawati. Lulusan BSA tentu berpeluang besar dalam menjalankan bisnis yang digelutinya. Apalagi dengan kemampuan bahasa Arabnya yang sangat mumpuni. Kemampuan bahasa Arab sangat penting dalam membawa pengusaha untuk melancarkan bisnisnya hingga di kancah internasional.
Keduapuluh, Public Relation. Lulusan BSA dapat menjadi public relation, walaupun pekerjaan ini cenderung merupakan prospek kerja dari ilmu komunikasi. Public relation berperan dalam mengurus dan mengkoordinasikan semua hal yang berkaitan dengan komunikasi, baik di dalam maupun luar dari suatu perusahaan.
Keduapuluh satu, Jurnalis. Bagi lulusan BSA yang menyukai media cetak maupun media online, tentu peluang kerja lulusan BSA sangat terbuka lebar. Jurnalis bertugas dalam mengumpulkan dan menulis informasi atau berita di suatu surat kabar maupun media online. Bahasa Arab menjadi kelebihan lulusan BSA jika menekuni dunia jurnalis di lingkup internasional.
Keduapuluh dua, Dubes. Lululusan BSA akan berpeluang untuk menjadi duta besar Indonesia di Negara lain. Tentu bagi lulusan yang ingin ke luar negeri dan mewakili Negara Indonesia di kancah internasional. Bahasa Arab menjadi syarat mutlak, walaupun harus belajar bahasa Asing lainnya sebagai penunjang.
Keduapuluh tiga, Marketing atau pemasaran. Hal itu menjadi sangat penting dalam mengenalkan produk barang atau jasa kepada orang lain supaya terkenal. Lulusan BSA memiliki peluang untuk menjadi marketing atau pemasaran dengan bahasa Arab yang dikuasainya. Dengan komunikasi bahasa Arab yang baik, tentu seorang lulusan BSA dapat berperan dalam menyampaikan informasi yang bagus kepada para calon konsumennya.

F.                F. Kesimpulan
Dari berbagai pembahasan sebagaimana tersebut di atas, maka disimpulkan hal-hal sebagai berikut:
1.    Tantangan yang kini dihadapi oleh para mahasiswa BSA di dunia kerja adalah sebagai berikut:
(a)     Akibat globalisasi, penggunaan bahasa Arab fusha di kalangan masyarakat Arab sendiri mulai berkurang frekuensi dan proporsinya, cenderung digantikan dengan bahasa Arab ‘âmmiyah atau dialek lokal.
(b)  Realitas bahasa Arab dewasa ini juga dihadapkan pada tantangan globalisasi, tepatnya tantangan pola hidup dan kolonialisasi Barat, termasuk penyebarluasan bahasa Arab di dunia Islam.
(c)   Derasnya gelombang pendangkalan akidah, akhlak, dan penjauhan generasi muda Islam dari sumber-sumber ajaran Islam melalui pencitraan buruk terhadap bahasa Arab.
(d)   Agenda neokolonialisasi globalisme yang dilancarkan Barat terhadap dunia Islam dewasa ini dimaksudkan untuk membunuh karakter dan identitas budaya, terutama Arab.
(e)    Upaya penggantian huruf Arab dengan Latin, bahasa Arab pada lembaga pendidikan di dunia Islam juga mulai digeser –meskipun belum sampai digantikan—oleh bahasa Inggris atau Perancis sebagai bahasa pengantar untuk pembelajaran sains.
(f)   Berbagai siaran langsung olah raga di dunia Arab, terutama sepakbola, yang disiarkan dari Barat (liga Inggris, Spanyol, Italia, Perancis, atau Belanda) sudah banyak menggunakan bahasa Inggris.
(g)  Program tayangan televisi di dunia Arab juga sudah banyak dipengaruhi oleh gaya dan pola hidup Barat yang sekuler dan materialistik. Akibatnya, minat dan motivasi untuk mempelajari bahasa Arab secara serius menjadi menurun.
(h)  Kecenderungan berbahasa Arab âmmiyah tampaknya lebih didasari oleh kepentingan dan tujuan pragmatis, yaitu: komunikasi lisan yang lebih mengutamakan aspek kepraktisan, simpel, dan cepat.
(i)      Orientasi studi bahasa Arab pada lembaga pendidikan di Indonesia tampak masih mendua dan setengah-setengah: antara orientasi kemahiran, dan orientasi kailmuan.
(j)  Kebijakan pendidikan dan pengajaran bahasa Arab di madrasah dan lembaga pendidikan lainnya, selama ini, juga tidak menentu.
(k)   Rendahnya minat dan motivasi belajar mahasisiwa bahasa dan sastra Arab untuk mengambil jalan yang serba instan, tanpa menulis proses ketekunan dan kesungguhan. Hal ini terlihat dari karya-karya dalam bentuk makalah dan skripsi yang agaknya cenderung merosot atau kurang berbobot mutunya.
(l)    Mahasiswa yang sudah berada di dunia bahasa dan sastra Arab seakan tidak betah dan ingin mencari dunia lain.

2.    Peluang yang kini dimiliki oleh para mahasiswa BSA di dunia kerja adalah sebagai berikut:
(a)      Peluang untuk pengembangan bahasa dan Sastra Arab semakin terbuka.
(b)     Meningkatkan tradisi penelitian di bidang bahasa dan sastra Arab.
(c)  Intensifikasi penerjemahan karya-karya berbahasa Arab, baik penerjemahan berupa novel, buku, tulisan dan sebagainya ke dalam bahasa Indonesia dan/atau sebaliknya.
(d)  Sebagai Interpreter yang bertugas menerjemahkan bahasa Arab secara lisan dan langsung tanpa menulisnya.
(e)     Pengembangan media dan teknologi pembelajaran bahasa dan Sastra Arab.
(f)     Sudah saatnya mahasiswa BSA melahirkan karya-karya ilmiah dari hasil  penelitian, penulisan jurnal, penulisan buku kesusastraan Arab, dan sebagainya yang dapat memberikan pencerahan bagi masyarakat.
(g)   Mahasiswa BSA turut serta dalam pengembangan produk ekonomi kreatif, seperti membuat film, drama dan syair bahasa Arab fusha yang ditayangkan di berbagai TV di Indonesia.
(h)  Mengintensifkan kerjasama dengan pihak luar, termasuk dalam kerjasama ini melibatkan Kementerian Luar Negeri, agar pos-pos yang bernuansa bahasa dan sastra Arab dapat diisi oleh para lulusan BSA, yang meminati karir di bidang diplomasi dan politik.
(i)     Saatnya mahasiswa BSA yang memiliki hobi suka menulis dan ingin banyak uang, tidak salah jika ingin mencoba menjadi blogger dengan memilih topik blog dalam bahasa Arab yang tentunya akan dibaca oleh seluruh orang dari seluruh dunia.
(j)    Menjadi Freelance Writer yang bertugas menulis suatu majalah atau publikasi online melalui situs penyalur freelance, seperti UpWork, Freelancer, Indeed, dan lain-lain.
(k)     Dosen/Guru/Pendidik.
(l)       Ahli bahasa.
(m)  Banyak Organisasi dan Lembaga Internasional seperti ASEAN, WHO, UNESCO, dan lain sebagainya yang memerlukan lulusan BSA.
(n)     Diplomat.
(o)     Editor atau Penyunting.
(p)     PNS.
(q)     Tour Guide atau pemandu wisata.
(r)       Bekerja di Perusahaan Besar.
(s)      Berwirausaha.
(t)       Public Relation.
(u)     Jurnalis.
(v)     Dubes.
(w)    Marketing atau pemasaran.


DAFTAR PUSTAKA     


A.  Muri Yusuf, Kiat Sukses dalam Karir, Jakarta : Ghalia Indonesia, 2002.

Abdul Wahab, Muhbib, Epistemologi dan Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, Jakarta: UIN Press, 2008.
  
Arsyad, Azhar, Bahasa Arab dan Metode Pengajarannya, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003.

Bakalla, MH., Pengantar Penelitian Studi Bahasa Arab, Terj. dari Arabic Culture, Through Its Language and Literature oleh Males Sutiasumarga, Jakarta: Hardjuna Dwitunggal, 1984
Hakim, Atang Abd. dan Jaih Mubarak, Metodologi Studi Islam, Bandung: Rosdakarya, 2008.  

Hilary Wise, Arabic at a Glance, (New York: Barron’s Educational Series, 1987.

Ibn Fâris, al-Shâhibî fi Fiqh al-Lughah wa Sanan al-‘Arab fi Kalâmihâ, Beirût: ‘Muassasah Badrân, 1963.

Mukram, Abd al-‘Âl Sâlim, al-Lughah al-‘Arabiyyah fi Rihâb al-Qur’an al-Karîm, Kairo: ‘Alam al-Kutub, 1995.

Sujono Susarseno, “Pengenalan Dunia Kerja” dalam http://novalgnxitkj1.blogspot.com/2017/01/pengenalan-dunia-kerja.html.  Diakses 9 September 2019.

Syâhîn, 'Abd al-Shabûr, Fi ‘Ilm al Lughah al-Âmm, Beirut: alRisâlah, 1984.

Syubar, Sa’îd, al-Mushthalah Khiyâr Lughawî wa Simah Hadlâriyyah, Qatar: kitab al-Ummah, Edisi 78, 2000.

W.S. Winkel, Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan, Jakarta: Gramedia, 1997.    


[1]Disampaikan pada Acara Workshop Kesusastraan Arab Mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab (BSA) Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Metro,  11 September 2019.
[2] W.S. Winkel, Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan, (Jakarta: Gramedia, 1997), hal. 609.
[3]Harjono, “Kesiapan Peserta Didik untuk Memasuki Dunia Kerja” dalam http://search.incredibar.com.  Diakses tanggal 9 September 2019. 
[4] A. Muri Yusuf, Kiat Sukses dalam Karir, (Jakarta : Ghalia Indonesia, 2002), hal.  45.
[5] Sujono Susarseno, “Pengenalan Dunia Kerja” dalam http://novalgnxitkj1.blogspot.com/ 2017/01/pengenalan-dunia-kerja.html. Diakses 9 September 2019.
[6] Sujono Susarseno, “Pengenalan Dunia Kerja” dalam http://novalgnxitkj1.blogspot.com/ 2017/01/pengenalan-dunia-kerja.html. Diakses 9 September 2019.
[7]Azhar Arsyad, Bahasa Arab dan Metode Pengajarannya, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2003), h. 2
[8] Azhar Arsyad, Bahasa Arab dan Metode Pengajarannya, h. 2
[9] Hilary Wise, Arabic at a Glance, (New York: Barron’s Educational Series, 1987), h. 1
[10] Mukram, Abd al-‘Âl Sâlim, al-Lughah al-‘Arabiyyah fi Rihâb al-Qur’an al-Karîm, Kairo: ‘Alam al-Kutub, 1995), hal. 3
[11] Syahin, Abdushobur, Fi ‘Ilm al Lughah al-Âmm, (Bairut: al-Risâlah,1984), hal. 215.
[12] Abdul Wahab, Muhbib, Epistemologi dan Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, (Jakarta: UIN Press, 2008), hal. 99
[13] Ibn Fâris, al-Shâhibî fi Fiqh al-Lughah wa Sanan al-‘Arab fi Kalâmihâ, (Beirût: ‘Muassasah Badrân, 1963), hal. 16
[14] Bakalla, MH., Pengantar Penelitian Studi Bahasa Arab, Terj. dari Arabic Culture, Through Its Language and Literature oleh Males Sutiasumarga, (Jakarta: Hardjuna Dwitunggal, 1984), hal. 1.
[15] Syubar, Sa’îd, al-Mushthalah Khiyâr Lughawî wa Simah Hadlâriyyah, (Qatar: kitab al-Ummah, Edisi 78, 2000), hal. 12.
[16] Syâhîn, 'Abd al-Shabûr, Fi ‘Ilm al Lughah al-Âmm, (Beirut: al-Risâlah, 1984), hal. 45